Rasakan Betapa Klasiknya Jalan Braga


Hai Packers, pernahkah anda berkunjung ke Bandung? Kalau sudah pernah, apakah pernah mengunjungi jalan yang satu ini? Yah, namanya Jalan Braga… Salah satu jalan di Kota Bandung yang cukup populer. Jalan legendaris ini konon berasal dari bahasa Sunda, “Ngabaraga” yang artinya bergaya. Merupakan kawasan konservasi budaya yang sangat unik. Masih dapat kita lihat bangunan megah yang eksotis bergaya art deco disepanjang jalan ini. Banyaknya bangunan dengan style Eropa itu menyuguhkan kesan klasik disepanjang jalan ini.

Gaya arsitektur Eropa yang sangat kental membuat Jalan Braga mirip dengan suasana di Eropa. Sejak dulu pada zaman colonial tempat ini sudah cukup bergengsi, saat ini di jalan Braga masih dipenuhi berbagai tempat hiburan dan tempat belanja. Apabila ditelusuri ke belakang mengenai sejarah jalan Braga ini sangat eratkaitannya dengan pembangunan jalan Anyer-Panarukan. Jalan yang diperkeras dengan batu kali dan disepanjang jalan menggunakan penerangan lampu minyak, merupakan penghubung jalan Asia-Afrika menuju Balai Kota Bandung.

Dulu toko dikawasan ini menjual barang mewah berkelas yang menjadikan kawasan ini merupakan pusat perbelanjaan elit dan cukup tekenal di seluruh Hindia-Belanda. Salah satu keindahan di Kota Bandung ini membuat banyaknya dikunjungi warga Eropa sehingga kota Bandung dijuluki “Parijs van Java”. Kunjungan ke Bandung membawa saya untuk Street hunting ke jalan Braga dengan mendokumentasikan beberapa spot foto, bangunan dan aktivitas di jalan ini.

Melihat Keunikan Piknik Penduduk di Negeri Tibet


Suatu hal yang tidak biasa kita temukan di Indonesia dalam hal berlibur, berkemah atau piknik, di Tibet kami menemukan keunikan penduduk yang sedang Piknik. Dalam perjalanan antara Chuanzushi menuju ke Waqietalin Temple, pada posting sebelumnya saya sangat mengagumi pemandangan padang rumput luas layaknya seperti wallpaper windows Xp. Masih di padang rerumputan yang letaknya dipinggir jalan lintas kami menemukan keluarga Tibet yang sedang piknik.

Yah, benar saja ternyata pada musim panas antara bulan Juni sampai September, para kerabat dan keluarga di Tibet berkumpul, berlibur untuk merayakan musim panas tersebut, salah satunya adalah dengan piknik di padang rumput hijau. Bahkan kegiatan tersebut bisa dilakukan sampai berbulan lamanya.

Hal ini yang kami lihat di negeri ini, di padang rumput hijau yang sangat luas ada sebuah keluarga dengan mendirikan tenda-tenda piknik tradisional Tibet, duduk di karpet dan bantal khas Tibet. Mereka memiliki banyak makanan seperti daging Yaks, the mentega Tibet bahkan minuman anggur. Mereka menyanyi, menari, melompat, membuat teka-teki, bercerita tentang hari-hari berlalu. Di sebagian tempat kegiatan piknik ini bahkan menjadi festival yang rutin dilakukan.


Suasana yang begitu menyenangkan dengan wajah-wajah ceria yang tampak diantara mereka. Ketika kami datang, mereka menyambut kami dengan penuh suka, begitu ramah dan penuh canda, memberi daging Yaks hasil masakan mereka, berfoto bersama dan kami juga larut dalam kesenangan mereka. Ditengah teriknya matahari namun udara masih terasa cukup sejuk, wajah khas anak-anak Tibet dengan pipi yang memerah menjadi pemandangan tersendiri dalam foto-foto saya.

Ada satu yang menjadi pertanyaan dalam benak saya pada saat itu, selama mereka berlibur menikmati pikniknya, dimana mereka mandi atau mau buang hajat yah? Kalau melihat sekeliling yang ada hanya padang rumput yang luas, tanpa adanya sanitasi. Nah loh…

Atraksi Permainan Tradisional Pacu Jawi dari Ranah Minang


Keikutsertaan saya ke Sumatera Barat menyiratkan perasaan yang sangat excited, terlebih lagi dengan tujuan utamanya untuk memoto kegiatan Pacu Jawi di Tanah Datar, merupakan suatu keinginan yang terpendam lama untuk direalisasikan, mungkin bukan hanya saya tapi setiap fotografer lain juga pasti sangat menginginkan untuk mendapatkan foto terbaiknya disini. Rasa penasaran sudah menghinggapi dalam benak saya, karena foto-foto di Pacu jawi ini sering mendapatkan Juara diberbagai perlombaan foto. Atraksi Pacu Jawi yang ada di Sumbar ini mirip dengan Karapan Sapi yang ada di Madura, mungkin tata caranya saja yang berbeda...

Okeh, mari kita bahas mengenai kegiatan ini, apa itu Pacu Jawi??? Dalam Bahasa Indonesia disebut juga dengan Balapan Sapi, sebuah atraksi permainan tradisional yang dilombakan di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Menilik sejarah ke belakang, kegiatan ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, pada awalnya kegiatan ini dilakukan oleh para Petani sehabis musim panen, dalam rangka mengisi waktu luang mereka sekaligus menjadi saran hiburan bagi masayarakat setempat.


Setiap tahunnya lomba balap sapi ini diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Seiring berkembangnya zaman, atraksi tradisional ini masih tetap ada sampai sekarang dan bahkan dijadikan sebagai objek wisata budaya, bukan hanya wisatawan local, tapi juga wisatawan mancanegara turut menyaksikan dan merekam kegiatan budaya yang masih lestari di ranah minang ini.

Sampai di Bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul 08.00 wib, kami sudah dijemput dengan menggunakan dua kendaran bus berukuran sedang. Keluar dari Bandar seluruh anggota BSPC sarapan terlebih dahulu karena sehabis ini kami akan menempuh perjalanan yang cukup jauh. Kami langsung menuju Batu Sangkar, Kabupaten Tanah Datar tempat diadakannya kegiatan Pacu Jawi. Menempuh waktu sekitar 2 jam 30 menit dengan jarak kurang lebih 80 km kami pun tiba di lokasi, dari tempat parkiran kami berjalan sedikit untuk menuju ke lokasi atraksi Pacu Jawi.

Disebuah kawasan persawahan ditengah cuaca yang sangat terik, panitia sedang mempersiapkan lahan dengan panjang sekitar 100 meter, kemudian mereka menggenangi lahan tersebut dengan air sehingga tanah menjadi lembek dan becek sehingga dapat menimbulkan efek dramatis pada saat di foto nanti. Sapi-sapi pun mulai berdatangan dari segala penjuru daerah Sumbar dengan joki-nya masing-masing untuk melakukan perlombaan. Dengan dibekali alat bajak pacu yang terbuat dari bambu (biasanya digunakan untuk membajak sawah), dua ekor sapi dipasangkan pada satu alat pembajak sawah tersebut.

Uniknya Pacu Jawi bukan mencari siapa yang tercepat sampai digaris finish, namun siapa yang bisa berlari paling lurus untuk mencapai finish. Sehingga pada saat perlombaan kita tidak akan melihat adanya kejar-kejaran antara sapi, namun hanya sepasang sapi dengan masing-masing alat pembajak sawah dengan seorang Joki dibelakang sepasang sapi tersebut. Menurut cerita masyarakat hal ini untuk menghindari adanya taruhan jika diadakan perlombaan untuk mencari yang tercepat.

Kegiatan ini sangat digemari oleh masayarakat sekitar, bahkan wisatawan baik lokal maupun mancanegara rela berkunjung ke tempat ini untuk mendapatkan foto terbaik dari setiap moment di Pacu jawi. Hal ini disebabkan karena sudah banyak pemenang lomba fotografi dengan objek Pacu Jawi tersebut. Mungkin menurut beberapa orang kegiatan ini adalah eksploitasi terhadap hewan, namun kegiatan ini merupakan budaya tradisional Indonesia yang patut di lestarikan sampai anak cucu kita kelak.

Danau Siais - Tapanuli Selatan


Kalau anda berfikir bahwa Danau Toba adalah satu-satunya perairan darat/danau di wilayah Sumatera Utara, berarti anda sudah salah. Ternyata ada beberapa danau di Sumatera Utara, salah satunya Danau Siais di Tapanuli Selatan yang merupakan danau terbesar kedua di Sumatera Utara setelah danau Toba.

Danau seluas 4 Ha ini terletak di Desa Rianiate, Kecamatan Angkola Barat, Tapanuli Selatan atau sekitar 40 km dari Padang Sidimpuan dengan melewati Batang Toru. Daerah ini dulunya masih sulit dijangkau karena letaknya yang jauh dan infrastruktur. Yah, tentu saja jalan menuju kesana sangat sulit medannya karena kebanyakan aspalnya rusak parah.

Namun perlahan Pemerintah setempat melakukan pembenahan yang mulai dilakukan demi mendongkrak aset pariwisata daerah. Saat ini sudah banyak infrastruktur, khususnya jalan menuju ke lokasi yang sudah dibenahi. Sehingga Waktu tempuh untuk mencapai Danau dapat di persingkat.

Daya tarik lain sebelum sampai ke Danau Siais adalah keberadaan ikan jurung di salah satu anak sungai yang membelah desa Rianiate. Menurut kepercayaan masyarakat setempat ikan-ikan tersebut dahulunya merupakan peliharaan seorang syekh. Ikan tersebut dilestarikan oleh penduduk sekitar dan pantangannya Dilarang untuk mengambil ikan tersebut.

Keindahan Air Terjun Aek Sijorni



Air Terjun Aek Sijorni Tеrlеtаk dіаntаrа Kоtа Pаdаng Sіdіmрuаn dаn Kаbuраtеn Mаndаіlіng Nаtаl (Mаdіnа), Aеk Sіјоrnі mеruраkаn tеmраt wіѕаtа аlаm dіkеlurаhаn Sауur Mаtіnggі уаng mеmіlіkі kеіndаhаn bеruра аіr tеrјun bеrtіngkаt-tіngkаt dеngаn аіr уаng ѕеlаlu јеrnіh kаrеnа аlіrаn ѕungаі уаng dіlеwаtі аdаlаh bаtu саdаѕ ѕеhіnggа tіdаk mеngаndung lumрur. Dіѕеkеlіlіng tеmраt іnі ѕаngаt bаnуаk dіtumbuhі оlеh роhоn kеlара.

Bеrаѕаl dаrі bаhаѕа bаtаk. Aеk bеrаrtі аrtіnуа аіr, ѕеdаngkаn Sіјоrnі аdаlаh јеrnіh bіlа dіѕаtukаn dараt dіаrtіkаn Aіr уаng Jеrnіh. Jіkа kіtа раdа umunуа ѕеrіng mеlіhаt kеbаnуаkаn аіr tеrјun уаng bіаѕаnуа bеrukurаn tіnggі dаn rаmріng ѕеrtа tеgаk luruѕ, mаkа аіr tеrјun Aеk Sіјоrnі іnі bеrаdа mеmіlіkі bеntuk bеdа dаrі аіr tеrјun kеbаnуаkаn kаrеnа bеntuknуа уаng lаndаі аtаu mеmіlіkі kеmіrіngаn раdа tаnаh kаrеnа mеmіlіkі kаndungаn kарur.

Tеmраt іnі mеruраkаn ѕаlаh ѕаtu dеѕtіnаѕі tuјuаn wіѕаtа уаng оkе рunуа brо.. bіѕа dіјаdіkаn реrtіmbаngаn untuk dіkunјungі араbіlа kаlіаn kе wіlауаh Tараnulі Sеlаtаn аtаu Mаdіnа.

Akѕеѕ mеnuјu wіѕаtа Aеk Sіјоrnі іnі сukuр mudаh, dаrі Pаdаng Sіdеmрuаn mеnuјu Aеk Sіјоrnі, реrјаlаnаn dіtеmрuh kurаng lеbіh ѕаtu јаm. Sеlаnјutnуа kаmu dі hаruѕkаn mеlеwаtі dulu јеmbаtаn gаntung уаng tеrbеntаng ѕеkіtаr 25 mеtеr dаn bеrјаlаn kеmbаlі ѕеlаmа 15 mеnіt.